Hati-Hati! Aksesoris Bertuliskan Ayat Al-Qur’an Tidak Boleh Sembarangan Dibawa Tanpa Wudhu

Di zaman sekarang, banyak orang memakai atau menyimpan aksesoris bertuliskan ayat suci Al-Qur’an. Mulai dari jam tangan, jam beker, pigura, gantungan mobil, kaligrafi, hingga berbagai hiasan rumah bernuansa Islami. Selain dianggap indah, sebagian orang juga meyakini benda-benda tersebut membawa keberkahan.


Namun, muncul satu pertanyaan penting: apakah benda yang terdapat tulisan ayat Al-Qur’an boleh dipegang atau dibawa oleh orang yang tidak memiliki wudhu?
Para ulama menjelaskan bahwa hukum perkara ini tidak bisa dianggap sepele. Sebab, di dalamnya berkaitan langsung dengan penghormatan terhadap Kalamullah.
Dalam penjelasan para fuqaha disebutkan, apabila tulisan ayat Al-Qur’an pada suatu benda memang ditulis untuk tujuan dirasah atau pembelajaran Al-Qur’an, maka haram bagi orang yang berhadas untuk memegang atau membawanya tanpa terlebih dahulu bersuci.
Sedangkan jika tulisan tersebut dibuat untuk tujuan tabarruk, yakni mengambil keberkahan, maka para ulama berbeda pendapat. Akan tetapi, banyak ulama tetap memilih pendapat yang lebih hati-hati, yaitu tidak membolehkan memegangnya tanpa wudhu demi menjaga kehormatan Al-Qur’an.

Hal ini diterangkan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khatib:
حاشية البجيرمي على الخطيب - (ج 3 / ص 309)
قوله : ( للتبرك ) والعبرة في قصد الدراسة والتبرك بحال الكتابة دون ما بعدها ، وبقصد الكاتب لنفسه أو لغيره متبرعا ، وإلا فآمره أو مستأجره . ولو قصد التميمة بما للدراسة تغير الحكم من الحرمة إلى الحل وعكسه ، ولو شك هل قصد التميمة ؟ فلا يحرم أو الدراسة فيحرم . قال ابن حجر : بالأول نظر إلى تعارض الاحتمالين فيبقى أصل الحال . وقال شيخنا : والذي يفهم من كلامهم الحرمة فقد قالوا : لو شك في التفسير هل هو أكثر أو لا ؟ إنه يحرم ؛ إذ هي الأصل ولا يصار للحل إلا بيقين ا ج ملخصا .

Keterangan ini menjelaskan bahwa yang menjadi ukuran adalah niat saat penulisan ayat tersebut. Jika sejak awal ditulis untuk pembelajaran Al-Qur’an, maka hukumnya seperti mushaf Al-Qur’an yang wajib dijaga kesuciannya.

Namun jika memang ditulis untuk jimat atau tabarruk, maka hukumnya bisa berbeda. Meski demikian, ketika terjadi keraguan apakah tulisan itu untuk pembelajaran atau sekadar tabarruk, para ulama lebih mengedepankan sikap ihtiyath (kehati-hatian), yaitu tetap menghormatinya seperti mushaf Al-Qur’an.

Penjelasan serupa juga terdapat dalam kitab Hawasyi asy-Syarwani:

حواشي الشرواني - (ج 1 / ص 152)
قوله: (فيما شك أقصد به تبرك الخ) نقل الحلبي في حواشي المنهج الحل عند الشك عن الشارح وأقره وفي المغني ما يفيد الحرمة ونقلت عن الجمال الرملي أيضا وقال سم في حواشي المنهج الوجه التحريم لانه الاصل في المصحف وفاقا لشيخنا الطبلاوي وفي شرح المحرر للزيادي يؤخذ من العلة أنه لو شك هل قصد به الدراسة أو التبرك أنه يحرم تعظيما للقرآن كردي
Dari penjelasan para ulama tersebut, dapat dipahami bahwa menjaga adab terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tetap menjadi perkara penting, meskipun tulisan itu berada pada benda aksesoris atau hiasan.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati ketika membawa atau memegang benda yang terdapat ayat Al-Qur’an, terlebih jika belum dalam keadaan suci. Sikap ini bukan mempersulit, melainkan bentuk pengagungan terhadap firman Allah SWT.
Di tengah maraknya tren aksesoris Islami saat ini, adab terhadap Al-Qur’an jangan sampai ikut terlupakan. Sebab kemuliaan ayat suci bukan hanya terletak pada bacaan dan hafalannya, tetapi juga pada cara umat Islam menghormati dan memuliakannya dalam kehidupan sehari-hari.