Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang menjadi dambaan setiap Muslim. Namun, tujuan terbesar dari perjalanan suci tersebut bukan sekadar sampai ke Tanah Suci dan menyempurnakan rangkaian manasik, melainkan meraih predikat haji mabrur di sisi Allah سبحانه وتعالى.
Keutamaan haji mabrur dijelaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:
“Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur selain surga.”
(HR. Al-Bukhari)
Predikat haji mabrur bukan hanya terlihat saat seseorang berada di Makkah dan Madinah, tetapi lebih tampak setelah ia kembali ke kampung halaman. Para ulama menjelaskan bahwa tanda diterimanya ibadah haji adalah berubahnya akhlak menjadi lebih baik dan meningkatnya ketakwaan hingga akhir hayat.
Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, Sayyid Abdurrahman Ba‘alawi Al-Hadhrami menukil perkataan Al-Khawwash رحمه الله:
بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 187 مكتبة دار الفكر
[ فَائِدَةٌ ] قَالَ الْخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللهُ مِنْ عَلاَمَاتِ قَبُوْلِ حَجِّ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ خُلِعَ عَلَيْهِ خِلْعَةَ الرِّضَا عَنْهُ أَنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الْحَجِّ وَهُوَ مُتَخَلِّقٌ بِاْلأَخْلاَقِ الْمُحَمَّدِيَّةِ لاَ يَكَادُ يَقَعُ فِيْ ذَنْبٍ وَلاَ يَرَى نَفْسَهُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللهِ وَلاَ يُزَاحِمُ عَلَى شَيْئٍ مِنْ أُمُوْرِ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُوْتَ وَعَلاَمَةُ عَدَمِ قَبُوْلِ حَجِّهِ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ الْحَجِّ كَمَا أَنَّ مِنْ عَلاَمَاتِ مُقْتِهِ أَنْ يَرْجِعَ وَهُوَ يَرَى أَنَّ مِثْلَ حَجِّهِ أَوْلَى بِالْقَبُوْلِ مِنْ حَجِّ غَيْرِهِ لِمَا وَقَعَ فِيْهِ مِنَ الْكَمَالِ فِي تَأَدِّيْهِ الْمَنَاسِكَ وَخُرُوْجِهِ فِيْهَا مِنْ خِلاَفِ الْعُلَمَاءِ لَكِنْ لاَ يُدْرِكُ هَذَا الْمُقْتَ إِلاَّ أَهْلُ الْكَشْفِ اهـ مِنْ خَاتِمَةِ الْمِيْزَانِ لِلشَّعْرَانِيِّ اهـ
Keterangan tersebut menjelaskan bahwa di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah ketika ia pulang dalam keadaan memiliki akhlak terpuji, semakin menjauhi dosa, tidak merasa lebih mulia dari orang lain, serta tidak lagi berlebihan mengejar urusan dunia.
Sebaliknya, tanda haji yang tidak diterima adalah ketika seseorang kembali seperti sebelum berhaji, tanpa perubahan akhlak dan ketakwaan. Bahkan lebih berbahaya lagi apabila setelah berhaji muncul rasa ujub dan merasa ibadah hajinya lebih baik daripada orang lain.
Haji mabrur melahirkan pribadi yang rendah hati, lembut dalam berbicara, rajin beribadah, gemar bersedekah, serta semakin menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Gelar “Pak Haji” bukan sekadar panggilan kehormatan, tetapi amanah untuk menunjukkan teladan yang baik di tengah masyarakat.
Karena itu, para jamaah haji hendaknya tidak hanya fokus menyempurnakan manasik selama di Tanah Suci, tetapi juga menjaga perubahan diri setelah pulang dari haji. Sebab ukuran kemabruran haji tidak hanya dilihat saat thawaf dan wukuf, melainkan bagaimana istiqamah dalam ketaatan hingga akhir kehidupan.
