Polemik Qurban untuk Orang Lain dan Orang yang Telah Wafat: Bagaimana Penjelasan Ulama Mazhab Syafi’i?
Menjelang Hari Raya Iduladha, satu pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat ialah: bolehkah berqurban untuk orang lain, terutama untuk orang tua atau keluarga yang sudah meninggal dunia?
Sebagian masyarakat melaksanakan qurban atas nama ayah, ibu, guru, bahkan kerabat yang telah wafat dengan harapan pahala ibadah tersebut sampai kepada mereka. Namun di sisi lain, para ulama fikih memberikan rincian hukum yang cukup detail terkait persoalan ini.
Dalam khazanah fikih Mazhab Syafi’i, pembahasan tentang qurban untuk orang lain telah dijelaskan panjang lebar oleh para ulama besar seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, Imam ar-Ramli, Khatib Syarbaini, hingga Imam al-Bajuri.
Qurban Adalah Ibadah, Tidak Bisa Sembarangan Diwakilkan
Imam An-Nawawi dalam kitab Minhaj al-Thalibin menjelaskan:
“Tidak melakukan qurban untuk orang lain yang masih hidup tanpa izinnya dan tidak untuk orang yang sudah meninggal apabila tidak mewasiatkannya.”
Penjelasan ini menjadi dasar penting bahwa qurban termasuk ibadah yang berkaitan langsung dengan niat dan pelaksanaannya, sehingga tidak boleh begitu saja dilakukan atas nama orang lain tanpa ketentuan syariat.
Namun demikian, para ulama juga memberikan beberapa pengecualian yang dibolehkan dalam agama.
Pengecualian yang Dibolehkan Ulama
Imam Ibrahim al-Bajuri menjelaskan:
“Tidak boleh melaksanakan qurban untuk orang lain tanpa seizinnya kecuali qurban untuk ahli baitnya atau wali dari hartanya untuk mauliyahnya ataupun imam (pemimpin negara) dari baitulmal untuk kaum muslimin.”
Artinya, terdapat beberapa keadaan yang dibolehkan, di antaranya:
- seseorang berqurban untuk keluarganya,
- wali berqurban untuk anak atau orang dalam tanggungannya,
- pemimpin berqurban dari baitulmal untuk kaum muslimin.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami juga menegaskan:
“Ayah atau kakek boleh melaksanakan qurban untuk orang yang berada di bawah perwaliannya dari hartanya sendiri.”
Sementara Imam Qalyubi mengatakan:
“Disunnahkan seseorang berqurban untuk anaknya, namun tidak disunnahkan untuk janin.”
Rasulullah SAW Pernah Mengikutsertakan Umatnya dalam Doa Qurban
Dalil yang sering dijadikan landasan dalam masalah ini adalah hadis sahih riwayat Muslim dari Sayyidah Aisyah RA:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بكبش أقرن يطأ في سواد ويبرك في سواد وينظر في سواد فأتي به فقال لها يا عائشة هلمي المدية ثم قال اشحذيها بحجر ففعلت ثم أخذها وأخذ الكبش فأضجعه ثم ذبحه ثم قالباسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمدثم ضحى به
باسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد
Hadis ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya, bahkan dalam ibadah qurban beliau turut mendoakan umat Islam.
Namun Imam ar-Ramli memberikan penjelasan penting:
“Hadisاللهم هذا عن محمد وأمة محمدdipahami sebagai berkongsi dalam pahala, bukan berkongsi dalam qurban.”
Artinya, Rasulullah SAW tidak menjadikan seluruh umat sebagai pemilik qurban, tetapi beliau berharap pahala qurban tersebut juga sampai kepada umatnya.
Bagaimana dengan Qurban untuk Orang yang Sudah Meninggal?
Persoalan inilah yang paling sering dipertanyakan masyarakat.
Dalam Mughni al-Muhtaj, Imam Khatib Syarbaini menjelaskan:
“Tidak ada qurban untuk orang yang sudah meninggal apabila tidak pernah mewasiatkannya.”
Dalil yang digunakan adalah firman Allah SWT:
وأن ليس للإنسان إلا ما سعى
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Namun dalam Mazhab Syafi’i terdapat satu pendapat (wajh) yang membolehkan qurban untuk mayat meskipun tanpa wasiat, karena dianggap bagian dari sedekah yang pahalanya dapat sampai kepada orang yang telah meninggal.
Pendapat ini diperkuat oleh hadis Sayyidina Ali RA:
عن حنش عن علي أنه كان يضحي بكبشين أحدهما عن النبي صلى الله عليه وسلم والآخر عن نفسه فقيل له فقال أمرني به يعني النبي صلى الله عليه وسلم فلا أدعه أبدا
Imam al-Baihaqi berkata:
“Jika hadis ini sahih, maka menjadi dalil bolehnya qurban untuk mayat.”
Satu Kambing untuk Satu Orang, Tapi Pahalanya Bisa Dibagikan
Imam ar-Rafi’i menjelaskan:
“Satu kambing tidak dijadikan qurban kecuali untuk satu orang. Tetapi apabila qurban dilakukan oleh satu orang dari ahli bait, maka syiar dan sunnah qurban berlaku bagi seluruh anggota keluarga.”
Beliau juga menafsirkan hadis Rasulullah SAW:
اللهم تقبل من محمد وآل محمد
Sebagian ulama memahaminya sebagai tasyrik fil ajr atau berkongsi dalam pahala qurban.
Dengan demikian, seseorang boleh menyembelih seekor kambing untuk dirinya sendiri lalu menghadiahkan pahala qurban itu kepada keluarga, kerabat, maupun orang yang telah meninggal.
Bagaimana Jika Qurban Terlewat?
Dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab dijelaskan:
“Jika qurban sunnah terlewat waktunya maka tidak ada qadha baginya. Namun apabila qurban itu nazar maka wajib dilaksanakan.”
Ini menunjukkan bahwa qadha qurban hanya berlaku pada qurban wajib karena nazar, bukan qurban sunnah biasa.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan para ulama Mazhab Syafi’i, dapat dipahami beberapa poin penting:
1. Qurban adalah ibadah khusus
Karena itu, pada dasarnya tidak boleh dilakukan atas nama orang lain tanpa izin.
2. Ada pengecualian yang dibolehkan
Seperti:
- qurban untuk keluarga,
- qurban wali untuk anak atau tanggungannya,
- qurban pemimpin untuk rakyatnya.
3. Pahala qurban boleh dihadiahkan
Seseorang boleh berqurban untuk dirinya lalu mengikutsertakan keluarga atau orang lain dalam pahala qurban tersebut.
4. Qurban untuk orang yang telah meninggal
Pendapat kuat Mazhab Syafi’i menyatakan tidak boleh kecuali ada wasiat. Namun terdapat satu pendapat lain yang membolehkannya sebagai bentuk sedekah.
5. Qadha hanya berlaku untuk qurban nazar
Sedangkan qurban sunnah yang terlewat tidak wajib diqadha.
Melalui penjelasan para ulama ini, umat Islam diharapkan dapat memahami ibadah qurban secara lebih bijak, ilmiah, dan sesuai tuntunan syariat, sehingga pelaksanaan ibadah Iduladha benar-benar membawa keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, dan umat Islam secara keseluruhan.
